Peringati Hari Kartini Di Rumah, Siswa Baca Puisi di Hadapan Orangtuanya

Peringati Hari Kartini Di Rumah, Siswa Baca Puisi di Hadapan Orangtuanya

Semarang – Saat ini, kehidupan kita seakan tengah dikudeta oleh Covid-19. Semua merasa kelabakan dan kewalahan menghadapinya. Semua dibuat bingung dan mengakui kerapuhan kita dalam menghadapi serangan virus ini. Musibah corona tidak hanya menimpa Indonesia saja, tetapi seluruh bangsa-bangsa di dunia.

Pandemi corona merupakan musibah global yang menimpa seluruh dunia. Pandemi Corona menimpa 213 negara dan hampir dua juta orang terinfeksi virus corona. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan, namun juga memporakporandakan hampir seluruh sendi kehidupan, ekonomi, sosial, dan pendidikan. Misalnya, peringatan Hari Kartini yang jatuh tanggal 21 April, kini sepi kegiatan seperti tahun sebelumnya.

Menurut pengawas Kemenag Kota Semarang, Amhal Kaefahmi, setiap tanggal 21 April, kantor pemerintah dan swasta, lembaga pendidikan, maupun ibu-ibu dasawisma, biasanya semarak menyelenggarakan peringatan Hari Hartini. Berbagai kegiatan digelar, seperti lomba memasak, merangkai bunga, dan lomba pakaian adat.

"Salon kecantikan pun biasanya ikut ramai, banyak ibu-ibu dan anak-anak sekolah menggunakan jasanya untuk mempercantik diri dalam rangka memeriahkan hari Kartini," tutur Amhal Kaefahmi, saat WFH dari rumah di Yogyakarta, Rabu (22/4/2020).

Imbauan pemerintah unttuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah akibat dampak corona, serta kepatuhan menjaga jarak fisik (phisycal distancing), maka peringatan hari Kartini yang biasanya hingar-bingar menjadi "ambyar". Kegiatan yang sudah dirancang harus direvisi dan dimodifikasi. Kita harus taat untuk  tidak mengadakan pengumpulan massa atau kerumunan sebagai upaya mencegah penularan Covid-19.

Amhal Kaefahmi mengatakan, dibalik musibah Covid- 19 ternyata memunculkan ide kreatif dari siswa maupun guru. Kendati dalam situasi darurat corona, mereka tetap berdedikasi memberikan semangat dan dukungan pada anak didiknya di rumah. Kebijakan stay di rumah, tidak mengurangi semangat anak-anak untuk mengadakan peringatan Hari Kartini, meski dilakukan di rumah bersama keluarga inti.

Seperti dilakukan Rizkiya Puti Almira, siswa MI Hidayatul Mubtadiin. Ia membacakan puisi tentang Kartini di hadapan ibunya, Sri Wahyuni di rumahnya, Lamper Tengah 3 Rt. 07 Rw. 03 Gayamsari, Kota Semarang.

Semangat serupa dilakukan Navisatuz Zahra, siswi kelas 3 MI Infarul Ghoy Kecamatan Pedurungan. Meski terlihat malu-malu, putri kesayangan Dwi Hidayati ini membacakan puisi "Kartini" dengan mantab.

Demikian pula yang dilakukan para siswa dari MI Al Khoiriyyah 1 Kecamatan Semarang Selatan. Misalnya, M. Wildan Januandika putra dari Lilik Gunawan, membacakan puisi dengan penuh ekspresi. Sedangkan Denada Nahya Putri, berlenggak-lenggok mengenakan pakaian adat di depan orangtuanya, Sudarno dan Siti Muridah.

"Kami cukup terkejut mendapat kiriman foto dan dan video dari orangtua siswa. Meski di rumah, mereka memperingati Hari Kartini walaupun secara sederhana bersama orangtuanya," ujar Siti Muthiah, merasa bangga.

Kegiatan berbeda dilakukan anak-anak MI An Nur, Fitria Silmikaffah dan Ahmad ilham vareza. Kedua siswa kelas 3 MI itu, menyemarakkan hari Kartini dengan membuat makanan yang ada tulisannya "Selamat Hari Kartini".

Menurut kepala MI An Nur, M. Muslikh, perayaan hari Kartini,tahun ini sangat berbeda. Meski demikian, harus memupuk dan menumbuhkan semangat kartini kepada anak-anak. Kita sedang merasakan Kartini yang dulu yakni, tetap belajar meski "terkurung". (Amhal Kaefahmi/bd)

Share this Post