Kendala Yang Dialami Selama Belajar Mandiri di Rumah Pada Siswa MI Al Khoiriyyah 01

Kendala Yang Dialami Selama Belajar Mandiri di Rumah Pada Siswa MI Al Khoiriyyah 01

Semarang - Imbauan pemerintah untuk belajar di rumah menyusul musibah Pandemi Covid-19, memaksa sekolah beralih ke model pembelajaran Daring (Dalam Jaringan). Guru harus siap dengan materi dan orangtuapun harus mampu dan mau mendampingi anak belajar di rumah. Walaupun tak banyak guru maupun orangtua siswa yang siap dengan peralihan ini. Demikian disampaikan Kepala MI Al Khoiriyyah 01, Siti Muthiah.

Belajar mandiri yang dilaksanakan sesuai dengan anjuran pemerintah dalam rangka pemutusan rantai penyebaran virus Covid 19. Sistem belajar mandiri merupakan hal baru, baik bagi guru, siswa ataupun orang tua siswa. Tidak jarang mereka menemukan sejumlah kendala untuk membantu anak-anak mereka melaksanakan sistem ini.

Berbagai upaya layanan pembelajaran Daring telah dilakukan guru agar tidak memberatkan siswa, namun di lapangan guru masih mengalami kendala, karena tingkat pemahaman orangtua yang berbeda-beda. Untungnya ada support system yang dibangun orangtua siswa dalam satu WhatsApp Group Kelas, tutur Muthiah.

Proses pembelajaran selama mandiri di rumah banyak menggunakan aplikasi seperti GCR, Vidio, WhatsApp, dengan menggunakan HP. Kendala itu muncul karena, anak-anak usia MI tidak ada yang punya HP sendiri, sehingga ketika melaksanakan tugas harus menunggu orang tua mereka pulang dari kerja, bahkan kadang yang mempunyai anak lebih dari satu, harus bergantian menggunakannya, kadang sampai HP hang. Ditambah, jaringan internet yang tidak mesti lancar.

Dituturkan bunda Alyana, salah satu orang tua, bahwa dia tidak bisa selalu mendampingi anaknya karena harus bekerja pagi sampai sore, tugas-tugas yang diberikan oleh guru, baru dikerjakan malam hari, kadang tidak maksimal mengerjakannya, karena anak sudah mengantuk. Akhirnya tugas seadanya dalam mengerjakan, bahkan ketika tugas soal di googleclassrom, kadang yang mengerjakan orang tua sendiri.

Lain lagi dengan mamah Nathan yang menuturkan, “Saya senang dengan tugas yang diberikan, tidak hanya pelajaran, tapi juga ada birrul walidain yang membuat anak saya mau melakukan pekerjaan rumah, seperti membersihkan rumah, merapikan almari, menata tempat tidur, merawat tanaman, mencuci sepatu dan sandal, mencuci piring, membantu memasak, membuat minuman hangat sampai memijat orang tua".

Lima pekan sudah berlalu, siswa sudah mulai bosan dengan kegiatan rutin tersebut. Kami orang tua mulai kesulitan, bagaimana membuat mereka semangat kembali. Kami kadang tidak sabar ketika anak sudah mulai malas mengerjakan tugas, mereka bilang, "belajar dengan bunda nggak enak, nggak seperti dengan ustadzah, mamah sering marah, nggak sabar, harus cepet-cepet ngerjakannya", keluh anak saya. Alhamdulillah dengan tahsin online melalui video call, anak saya bisa bertemu dengan ustdazahnya, meskipun hanya dari HP, bisa mengobati rasa kangen dengan ustadzah, ditambah nasehat yang diberikan bisa membangkitkan semangat mereka kembali, imbuh mamah Nathan .

Dari sisi guru sebagai pengajarpun, menyampaikan bahwa pembelajaran jadi lebih panjang, bahkan bisa 12 jam dalam sehari. WA group kelas harus selalu aktif, karena tugas yang dikirimkan anak waktunya berbeda dengan kesiapan orang tua.

Nurul Hidayah, guru kelas 1 mengungkapkan bahwa, sekarang sehari harus memantau hasil kerja siswa. Mulai pagi pukul 07.00 membuka kelas, memberi salam, memulai dengan basmalah, menyapa siswa dengan menanyakan kabar, selanjutnya memberikan tugas untuk hari ini, dari mulai materi pelajaran, tahfidz, tahsin, pelaksanaan salat fardu dan sunah, olah raga, juga birrulwalidain sudah ditentukan sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat.

Setelah itu baru tugas dikirim dari siang sampai malam. HP kami harus selalu aktif, harus siap menjawab pertanyaan orang tua yang kesulitan atau kurang faham dengan penugasan hari ini. Tugas yang berupa kiriman video harus kami nilai dan beri tanggapan. Pelaporan dari orang tua kami tunggu sampai malam, bahkan sampai pukul 21.00, karena orang tua baru ada kegiatan Begitu yang dikerjakan guru setiap harinya selama kegiatan belajar mandiri di rumah.

Menurut Nurul Hidayah, pembelajaran daring ini lebih berat dibanding dengan mengajar langsung, bertatap muka dengan para siswa. HP kami kadang error karena harus menampung chat dan video dari siswa, Ditambah lagi dengan kuota yang digunakan bisa empat kali lipat dari biasanya. Ini kendala bagi para guru. Tapi dengan keikhlasan dan semangat sebagai mujahid, semua tetap dilaksanakan sebagai tangungjawab seorang guru sehingga pelaksanaan pembelajaran tidak berhenti, meskipun tanpa bertatap muka. (NH/Al Khoiriyyah 01/sby/bd)

Share this Post