Amhal Kaefahmi: Kita Seakan Turut Tersentak Untuk Melakukan Pekerjaan Secara Daring

Amhal Kaefahmi: Kita Seakan Turut Tersentak Untuk Melakukan Pekerjaan Secara Daring

Kantor Kementerian Agama Kota Semarang - 01 April 2020

Semarang – Pengawas madrasah Kemenag Kota Semarang, Amhal Kaefahmi mengatakan, imbauan pemerintah untuk bekerja di rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah, menyusul merebaknya Covid-19, membawa perubahan pada perilaku masyarakat. Hampir semua instansi, baik pemerintah maupun swasta, termasuk bidang pendidikan, melaksanakan program digitalisasi.

"Kita seakan turut tersentak untuk melakukan pekerjaan secara daring (dalam jaringan) di era digitalisasi (Digitalization Age) ini," kata Amhal Kaefahmi, pengawas madrasah Kemenag Kota Semarang, saat memberikan pembinaan kepada kepala madrasah binaannya melalui daring dari rumah di Yogyakarta, Rabu (1/4/2020).

Menurutnya, di dunia pendidikan, sistem e-learning (pembelajaran elektronik) jadi alternatif melaksanakan proses belajar mengajar menggantikan sistem belajar dan mengajar tatap muka. Jangan sampai pembelajaran anak di rumah menjadi mandek, gara-gara kita tidak kuasai pembelajaran digital.

Walaupun tidak mudah, pemanfaatan teknologi ini membuka tabir keahlian dan mode pembelajaran yang baru, baik bagi siswa maupun bagi pengajar. Sekolah/madrasah mulai beradaptasi dengan sistem belajar daring. Guru dan kepala sekolah/madrasah berkoordinasi dengan orang tua/wali murid hingga ujian menggunakan sistem daring.

SK Dirjen Pendis Nomor: B-686.1/DJ.I/Dt.I.I/PP.00/03/2020 24 Maret 2020 perihal Mekanisme Pembelajaran dan Penilaian Madrasah dalam Masa Darurat Pencegahan Penyebaran Covid-19 disebutkan, belajar dari Rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

"Kita terus saling belajar untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran dari rumah dengan memanfaatkan aplikasi e-learning madrasah atau aplikasi daring lainnya," jelas Amhal.

Hasil pengawasan Amhal Kaefahmi selama WFH dalam sepekan ini diperoleh data, dari 8 MI dan 12 RA binaannya yang telah melakukan pembelajaran dan penilaian melalui WatsApp, video call, scan, dan foto, serta umpan balik siswa ataupun orang tua siswa. 5 MI dan 3 RA di antaranya, juga memanfaatkan aplikasi google form maupun google clasroom untuk pembelajaran dan penilaian guru.

Kepala MI Hidayatul Mubtadiin Kecamatan Gayamsari, Amat Komari dan kepala MI Al Khoiriyyah 1 Kecamatan Semarang Selatan, Siti Muti’ah mengatakan, pihaknya melaksanakan tes PAT untuk siswa menggunakan sistem online dengan memanfaatkan aplikasi google form.

“Alhamdulillah lancar. Sebelumnya, anak-anak sudah kami berikan latihan soal online dan dikerjakan berulang-ulang, sehingga ketika tes PAT, mereka sudah terbiasa,” papar Amat Komari dan Siti Muti'ah.

Sedangkan kepala RA Al Khoiriyyah Kecamatan Semarang Selatan, Mardiyah melaporkan, di samping memanfaatkan aplikasi google form, ia dan gurunya juga membuat video pembelajaran untuk dikirimkan ke orang tua siswa.

"Yang menjadikan kami semangat sekaligus bangga adalah, banyak orang tua siswa yang merespon positif dengan mengirimkan video dan foto.kegiatan anaknya selama belajar di rumah," ucap Mardiyah berseri-seri. (Amhal Kaefahmi/bd)

Share this Post